Festival TIK 2016 : Membangun Kebijakan Untuk Melindungi Dunia TIK

Tags : awareness
Date :17 September 2016

Yogyakarta - FestivalTeknologi Komunikasi dan Informatika (TIK) se-Indonesia kembali diselenggarakan di Yogyakarta 16-17 September 2016. Mengambil lokasi di Grhatama Pustaka DIY, festival pertama di Yogyakarta ini mengambil tema Candori (Kenduri) Hamemayu Hayuning Bawanayang artinya sebuah hajatan atau sebuah Selamatan yang telah menjadi tradisi orang Jawa setiap memperingati peristiwa tertentu atau bisa juga digunakan untuk meminta berkah. Acara yang berlangsung selama dua hari ini terdapat 7 seminar besar dan 28 workshop dengan pembicara berkompeten dari berbagai bidang.

Tujuannya dari festival TIK ini adalah untuk membangun masyarakat cerdas Indonesia, menginspirasi dan mendorong masyarakat agar memaksimalkan pemanfaatan TIK dalam kegiatan sosial, dan ekonominya, selain memperoleh informasi tentang perkembangan dunia TIK. "Tujuan utamanya yakni membangun kebijakan yang melindungi dunia TIK dengan menekan konten-konten negatif yang merugikan masyarakat” kata Septiana Tangkary selaku Direktur Pemberdayaan Informatika dalam sambutan pembukaan Festival CanDoRI TIK 2016 di Bantul, Yogyakarta, Jumat(16/9). Di sisi lain, tujuan festival semacam ini juga untuk mengembangkan konten positif, misalnya dalam pengembangan pariwisata Indonesia dan membangun wawasan nusantara yang tentu saja merevolusi mental masyarakat.

Turut mensukseskan kegiatan tersebut, Direktorat Keamanan Informasi Kementerian Kominfo turut mengisi salah satu Workshop dengan mengusung tema ‘’Kerawanan  Cybersecurity pada  E- Commerce’’. Dengan Narasumber Direktur Keamanan Informasi Aidil  Chendramata, Intan Rahayu Kasubdit Budaya Keamanan Informasi, Teguh Afriyadi Kasubdit Penyidikan dan Penindakan Keamanan Informasi, serta Kompol Rony selaku perwakilan dari Kombareskim Yogyakarta ini membawakan materi antara lain untuk membangkitkan kesadaran keamanan informasi dalam bertransaksi pada e-commerce.

Adapun saat ini perkembangan e-commerce di Indonesia saat ini sejalan dengan perkembangan era teknologi informasi yang dimana sisi keamanan informasi sangat diperlukan. Dalam paparannya, Intan Rahayu menyebutkan “Dalam melakukan transaksi elektronik, mempunyai website yang secure sangatlah penting, ini dikarenakan adanya informasi sensitif yang disimpan atau ditransfer. Sebisa mungkin melakukan enkripsi untuk penyimpanan informasi kartu kredit ke dalam website”. Ditkaminfo sendiri yang bekerjasama dengan Kepolisian RI juga sudah tanggap dalam penindakan untuk penyelesaian kasus cybercrime. Dikatakan oleh Teguh “semua tindak kejahatan yang dilakukan pada dunia maya pasti memiliki jejak dan itu pasti dapat dilacak”. Pada akhir sesi workshop terdapat demo singkat dari praktisi IT, Aat Sadewa tentang bagaimana cara mengetahui suatu celah keamanan informasi pada suatu website e-commerce yang bertujuan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap celah yang ada pada website e-commerce. Harapannya dari workshop ini adalah dapat meningkatkan kesadaran keamanan informasi pada masyarakat dalam bertransaksi online. (sby/pip)